Etika Bisnis dan Perspektif Islam

Perekonomian dunia yang semakin berkembang dan maju dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, sumber daya, dan lain-lain yang terus diinovasi memberi positif dan negatif yang tidak bisa kita hindari.

Namun ajaran agama islam datang sebagai pencegah dan dapat mengatasi dampak negatif dalam perkembangan zaman saat ini.

Kenapa islam? Karena di islam sendiri diajarkan nilai-nilai dasar ekonomi yang berasal dari ajaran tauhid dan Al-Qur'an.

Tanggung jawab, keadilan, norma-norma, tata cara berbisnis, etika dalam berbisnis semua diajarkan di dalam islam dan dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat.

Apa itu etika bisnis? Etika bisnis adalah perilaku baik dan buruk individu dalam kegiatan, membuat, menghasilkan, dan menjual barang dan jasa ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan.

Etika bisnis islam sendiri adalah akhlak dalam menjalankan bisnis sesuai dengan nilai-nilai islam, sehingga dalam melaksanakan bisnis tidak perlu ada rasa khawatir, karena sudah diyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar.

Fungsi Etika Bisnis Islam

Fungsi etika bisnis ada 3, yaitu: 
  • Berupaya mencari cara untuk menyelaraskan dan menyerasikan berbagai kepentingan dalam dunia bisnis.
Untuk mencari menyelaraskan dan menyerasikannya harus sesuai dengan kaidah dan ajaran yang sudah benar seperti agama islam.
  • Senantiasa melakukan perubahan kesadaran bagi masyarakat tentang bisnis, terutama bisnis islami.
Dengan cara seperti memberikan suatu pemahaman dan cara pandang yang baru mengenai bisnis dengan menggunakan landasan-landasan dasar moralitas dan spiritualitas dalam islam.
  • Memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bisnis modern yang semakin jauh dari nilai-nilai etika yang baik.
Bisnis yang beretika harus benar merujuk pasa sumber utama yaitu Al-Qur'an dan Sunnah.

Dasar-dasar Etika Bisnis

Etika ekonomi islam sebagaimana yang dirumuskan oleh para ahli ekonomi islam merupakan suatu ilmu yang mempelajari aspek-aspek kemaslahatan dan kemafsadatan dalam kegiatan ekonomi dengan memperhatikan amal perbuatan manusia yang dapat diketahui menurut akal pikiran (rasio) dan bimbingan wahyu (nash).

Dalam islam, ilmu akhlak dapat dipahami sebagai pengetahuan yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan berdasarkan ajaran islam yang bersumber kepada akal dan wahyu.

Nilai-nilai etika ekonomi islam yang terangkum dalam ajaran filsafat ekonomi islam terdapat 2 prinsip pokok, yaitu :

  • Prinsip Tauhid


Prinsip tauhid mengajarkan manusia tentang bagaimana mengakui keesaan Allah sehingga terdapat suatu konsekuensi bahwa keyakinan terhadap segala sesuatu hendaknya berawal dan berakhir hanya kepada Allah SWT.

Tauhid diumpamakan seperti beredarnya planet-planet dalam tata surya yang mengelilingi matahari. Kesatuan dalam ajaran tauhid hendaknya berimplikasi kepada kesatuan manusia dengan tuhan dan kesatuan manusia dengan manusia, serta kesatuan manusia dengan alam di sekitarnya.
  • Prinsip Keseimbangan
Prinsip ini mengajarkan manusia tentang bagaimana meyakini segala sesuatu yang diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi. 

Prinsip ini menuntuk manusia bukan hanya sekedar hidup seimbang semata, melainkan selaras juga dengan dirinya sendiri, tetapi juga menuntun manusia untuk mengimplementasikan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan.

Agar kegiatan bisnis yang kita lakukan dapat berjalan harmonis dan menghasilkan kebaikan dalam kehidupan, maka kita harus menjadikan bisnis yang kita takukan terwarnai dengan nilai-nilai etika.

Salah satu sumber rujukan etika dalam berbisnis kita adalah bersumber dari tokoh teladan agung manusia di dunia, yaitu Rasulullah SAW, berikut adalah panduan beretika dalam praktek bisnis kita :
  • Kejujuran
Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan berbisnis. Rasulullah melarang para pedagang metelakkan barang busuk di sebelah bawah dan barang baru di bagian atas.
  • Menolong atau Memberi Manfaat Kepada Orang Lain
Pelaku bisnis menurut islam tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta'awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis.

Berbisnis bukan mencari untung material semata, tetapi didasari kesadaran memberi keudahan bagi orang lain dengan menjual barang.
  • Tidak Boleh Menipu, Takaran, Ukuran, dan Timbangan yang Benar
Dalam perdagangan, timbangan yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan.
  • Tidak Boleh Menjelekkan Bisnis Orang Lain, agar Orang Membeli Kepadanya
Nabi  Muhammad SAW bersabda, "Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain" (H.R.Muttafaq'alaih)
  • Tidak Menimbun Barang
Ihtikar adalah menimbun barang atau menyimpan barang dalam masa tertentu, dengan tujuan agar hargaya suatu saat menjadi naik dan mendapatkan keuntungan besar. Rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam ini.
  • Tidak Melakukan Monopoli
Salah satu keburukan sistem ekonomi kapitali melegitimasi monopoli dan oligopoli. Contohnya adalah eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air, udara, dan tanah serta kandungan isinya seperti barnag tambang dan mineral.

Individu tersebut dilarang mengeruk keutnungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Hal ini dilarang dalam Islam.
  • Komoditi Bisnis yang Dijual Adalah Barang yang Suci dan Halal
  • Bisnis yang Dilaksanakan Bersih dari Unsur Riba
  • Bisnis Dilakukan dengan Suka Rela, Tanpa Paksaan
  • Membayar Upah Sebelum Kering Keringat Karyawan
Berkenaan dengan hal itu, islam sebagai ajaran yang universal memberikan pedoman tentang kegiatan ekonomi berupa prinsip-prinsip dan asas-asas muamalah. 

Juhaya S. Praja (2000) menyebutkan terdapat beberapa prinsip hukum ekonomi islam antara lain sebagai berikut:
  • Prinsip La yakun dawlatan bayn al-agniya
Yakni prinsip hukum ekonomi yang menghendaki pemerataan dalam pendistribusian harta kekayaan
  • Prinsip 'Antaradin
Yakni pemindahan hak kepemilikan atas harta yang dilakukan secara sukarela.
  • Prinsip  Tabadul Al-Manafi'
Yakni pemindahan hak atas harta yang didasarkan kepasa azas manfaat.
  • Prinsip Takaful Al-Ijtima'
Yakni pemindahan hak atas harta yang didasarkan kepada kepentingan solidaritas sosial.
  • Prinsip Haq al-lah wa hal al-adami
Yakni hak pengelolaan harta kekayaan yang didasarkan kepada kepentingan milik bersama, di mana individu maupun kelompok 6 dapat saling berbagi keuntungan serta diatur dalam suatu mekanisme ketatanegaraan di bidang kebijakan ekonomi. 

Kebenaran Etika Bisnis Islam

Kebenaran dasar etika bisnis islam yaitu prinsip-prinsip umum yang terhimpun menjadi satu kesatuan yang diuraikan sebagai berikut :
  • Kesatuan (Tauhid/Unity)
Konsep ini dimaksudkan bahwa sumber utama etika islam adalah kepercayaan total dan murni terhadap kesatuan (keesaan) Tuhan.

Dengan menintegrasikan aspek religius dengan aspek-aspek kehidupan lainnya, seperti ekonomi akan menimbulkan perasaan dalam diri manusia bahwa ia akan selalu direkam segala aktifitasnya, termasuk dalam aktifitas perekonomian sehingga dalam melakukan aktifitas bisnis tidak akan mudah menyimpang dari segala ketentuannya. 
  • Keseimbangan (Keadilan/Equilibrum)
Prinsip keseimbangan bermakna terciptanya suatu situasi dimana tidak ada satu pihak pun yang merasa dirugikan, atau kondisi saling ridho (‘an taradhin).
  • Kehendak Bebas ( Ikhtiar/Free Will)
Dalam pandangan islam, manusia memiliki pandangan untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memperoleh kemashlahah-an yang tertinggi dari sumber daya yang ada pada kekuasaannya untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk mencapai kesejahteraan hidup, namun kebebasan dalam islam dibatasi oleh nilai-nilai islam
  • Pertanggung Jawaban (Responsibility)
Islam sangat menekankan pada pada konsep tanggung jawab, walaupun tidaklah berarti mengabaiklan kebebasan individu.

Dalam dunia bisnis, setelah melaksanakan segala aktifitas bisnis dengan berbagai bentuk kebebasan, bukan berarti semuanya selesai saat tujuan yang dikehendaki tercapai atau ketika sudah mendapatkan keuntungan.

Semua itu perlu adanya pertanggung jawaban atas apa yang pebisnis lakukan
  • Ihsan (Benevolence)
Artinya melaksanakan perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain, tanpa adanya kewajiban tertentu yang mengharuskan perbuatan tersebut. 

Dalam sebuah kerjaan bisbis menggarisbawahi sejumlah perbuatan yang dapat mensupport pelaksaan aksioma ihsan dalam bisnis yaitu:
  1. Kemurahan Hati
  2. Motif Pelayanan
  3. Kesadaran akan adanya Allah dan aturan yang berkaitan dengan pelaksanaan yang menjadi prioritas
Selain hal yang disebutkam diatas, manusia juga diwajibkan untuk mengenal dan mengobservasi skala prioritas Quran, seperti :
  1. Lebih memilih kepada penghargaan akhirat ketimbang penghargaan duniawi
  2. Lebih memilih kepada tindakan yang ermoral ketimbang yang tidak bermoral
  3. Lebih memilih halal ketimbang yang haram

Sumber Etika Bisnis Islam

Dalam etika bisnis islam memiliki 2 sumber, yaitu . nilai Ilahiyat dan nilai Insaniyat. 2 sumber ini tidak diragukan lagi kebenaran dan ksahannya.
  • Nilai Ilahiyat 
Nilai yang bersumber dari ilahi adalah nilai yang dititahkan Allah kepada Rasul-Nya, yang berbentuk takwa, iman, ihsan, adil dan sebagainya yang diabadikan dalam wahyu Ilahi.

Nilai-nilai yang bersumber dari agama bersifat statis dan kebenarannya bersifat mutlak. Sikap, tindakan, dan perilaku manusia harus mencerminkan kehendak Tuhan untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri.
  • Nilai Insaniyat
Kebalikan dari nilai etika yang bersumber dari agama adalah nilai etika yang bersumber dari kreativitas dan konsesus pemikiran manusia demi kepentingan dan kebaikan manusia sendiri.

Karena adanya perbedaan dimensi ruang dan waktu dalam kehidupan, maka manusia memilki kebebasan untuk memberikan pemaknaan (interprestasi) atas nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru agar relevan dengan tuntutan dan kebutuhannya. 

Kedua nilai tersebut memiliki sumber yang berbeda, namun keduanya memiliki hubungan timbal balik satu sama lain. Hubungan antar nilai yang bersumber dari ilahi 8 dengan nilai yang bersumber dari insan yang demikian erat karena sifatnya yang relatif dan dinamis, memungkinkannya untuk tunduk pada nilai Ilahi yang mutlak dan permanen.

Maka segala intensi, pikiran, tindakan dan perilaku manusia tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Ilahi.

Ketergantungan manusia pada nilai Ilahi tidak berarti mengurangi harkat dan martabatnya, sebagai makhluk merdeka, melainkan membawa manusia pada posisi yang lebih manusiawi, memanusiakan manusia dan mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi sehingga menjadi sempurna.

Belum ada Komentar untuk "Etika Bisnis dan Perspektif Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel