Aksioma dan Prinsip Dasar Etika Bisnis

Pengertian Aksioma

Aksioma dalam bahasa Indonesia berarti kenyataan yang diterima sebagai kebenaran dengan tidak perlu dibuktikkan atau diterangkan kembali. Sedangkan etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan sesuatu yang baik dan yang buruk.

Paradigma Etika Bisnis Islam

Aksioma bisnis yang beretika yang dikonstruksika dari prinsip-prinsip etika bisnis (alQuran), di jelaskan secara normative dan sederhana dapat di jelaskan bahwa dalam aspek ekonomi dan bisnis, al-Qur’an telah menwarkan prinsip keadilan dan “kesucian” pada tiga aspek sekaligus.
  • Melarang pemilikan atau pengelolaan harta yang terlarang haram (dzatihnya)
  • Terlarang dalam cara proses memperoleh atau mengelola dan mengembangkannya
  • Terlarang pada dampak pengelolaan dan pengembanganya jika merugikan pihak lain (ada pihak yang menganiaya atau teraniaya)
Namun, penjelasan itu cenderung parsial dari sudut pandang filosofis. Oleh karena itu agar mendapatkan suatu cakrawala yang luas dan mendalam akan dipaparkan prinsip-prinsip etika bisnis yang harus melandasi suatu bisnis. Paparan ini merupakan suatu pardigma bisnis yang dibangun dan dilandasi oleh aksioma-aksioma sebagai berikut: 

1. Kesatuan (Unity)

Kesatuan sebagaimana tereflesikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, social, menjadi suatu “homogeneus whole” atau keseluruhan yang homogeny, sreta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang 5 menyeluruh.

Berdasarkan aksioma ini maka pengusaha muslim dalam melakuka aktivitas maupun entitas bisnisnya tidak akan melakukan, paling tidak tiga hal:
  • Deskriminasi diantara pekerja, penjual, pembeli, mitra kerja atas dasar pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin atau agama
  • Terpaksa atau melakukan praktek-praktek mal bisnis hanya Allah lah yang semestinyadi takuti dan dicintai
  • Menimbun kekayaan atau serakah, karena hakikatnya kekayaan merupakan amanah Allah.
2. Keseimbangan

Menggambarkan dimensi horizontal ajaran islam yang berhubungan dengan keseluruhan harmoni pada alam semesta. Hukum dan tatanan yang kita lihat pada alam semesta mencerminkan keseimbangan yang harmonis.

Kebutuhan sikap akan sikap keseimbangan atau keadilan ini ditekankan oleh allah dengan menyebut umat islam sebagai ummatun wasathan.

Ummatun wasathan adalah umat yang memiliki kebersamaan, kedinamisan dalam gerak, arah dan tujuanya serta memiliki aturan-aturan kolektif yang berfungsi sebagai penengah atau pembenar.

 3. Kehendak Bebas atau Ikhtiyar

Merupakan kontribusi bisnis yang paling orisinal dalam filsafat sosial tentang konsep manusia “bebas”. Hanya Tuhan yang bebas, namun dalam batas-batas skema penciptaanya manusia juga secara relatif mempunyai kebabasan.

Berdasarkan aksioma kehendak bebas ini, dalam bisnis, manusia mempunyai kebbasan untuk membuat suatu perjanjian, termasuk menepati atau mengingkarinya.

4. Pertanggung Jawaban

Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil di lakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggung jawaban dan akuntabilitas.

Aksioma pertanggung jawaban ini secara mendasar akan mengubah perhitungan ekonomi dan bisnis karena sesuatunya harus mengacu pada keadilaan.

5. Kebenaran, Kebajikan, dan Kejujuran

Kebenaran adalah nilai kebenaran yang di anjurkan dan tidak bertentangan dengan ajaran islam. 

Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagai niat, sikap dan prilaku yang benar, yang meliputi, proses akad (transaksi), proses mencari atau memperoleh komoditas, proses pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan margin keuntungan laba.

Adapun kejujuran adalah sikap jujur dalam semua proses bisnis yang dilakukan tanpa adanya penipuan sedikitpun. Sikap ini dalam khazanah islam dapat dimaknai dengan amanah.

Dalam islam, seperti di kemukakan Haedar Naqvi, ada pokok-pokok aksioma etika yang melandasi etika-etika selanjutnya. Agara dapat bertahan dan bermanfaat, system semacam ini harus memenuhi persyaratan umumsebagai berikut:
  •  Aksioma - aksioma itu haruslah merupakan refresentasi yang cukup dan sah dari pandangan etika islam,
  • Perangkat aksioama-aksioma itu haruslah merupakan represntasi yang cukup dan sah dari pandangan etika islam, 
  • Anasir perangkat yang dimaksudkan harus konsisten secara internal,
  • Sistem aksioma yang digunakan harus memiliki daya meramal.Pandangan yang padu, seimbang, relistismengenai alam manusia alam manusia dan peran sosialnya, yang khas islam, dapat di ikhtisarkan dengan tepat oleh aksioma etika, yakni: 
1. Tauhid

Sistem etika islam, yang meliputi kehidupan manusia di bumisecara keseluruhan, selalu tercermin dalam konsep tauhidullah (pemahesaan Allah) yang dalam pengertian absolute, hanya hubungan dengan tuhan.

Tauhid merupakan konsep serba ekslusif dan sekaligus serba eklusif. Dan sekaligus serba inklusif. Pada tingkat absolute ia membedakan alkhaliq dengan mahluk, memerlukan penyerahan tanpa syarat oleh semua mahluk kepada kehendaknya.

2. Keseimbangan

Sebagai tambahan terhadap dimensi vertical adalah al-‘adl (keseimbangan), yang dalam pengertian lebih mendalam menunjukan suatu imbangan daya keseimbangan.

Pada sifat mutlak, ini merupakan sifat yang tertinggi Allah; yang mengingkarinya berarti merupakan pengingkaran pula terhadapnya.

3. Kehendak Bebas

Salah satu kontribusi islam yang paling orisinal dalam filsafat socialtermasuk social ekonomiadalah konsep mengenai manusia bebas/merdeka.

Maksudnya, hanya tuhanlah yang mutlak bebas, tetapi dalam batas skemaskema penciptaaNya manusia juga relative bebas.

4. Pertanggung Jawaban yang Logis

Allah mentapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan membuatnya bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan:

Artinya: “.. Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh kebahagiaan (pahala) dari padanya. dan Barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul konsekuensinya…” (Annisa (4): 85).

Prinsip-prinsip Etika Bisnis

1. Prinsip Otonomi

Merupakan sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

Seseorang dikatakan memiliki prinsip otonomi dalam berbisnis jika ia sadar sepenuhnya akan kewajibannya dalam dunia bisnis. Ia tahu mengenai bidang kegiatannya, situasi yang dihadapinya, tuntutan dan aturan yang berlaku bagi bidang kegiatannya.

Oleh karena itu orang yang otonom bukanlah orang yang sekedar mengikuti begitu saja norma dan nilai moral yang ada, melainkan ia tahu dan sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah sesuatu yang baik.

Hal yang demikian berlaku juga dalam bidang bisnis. Misalnya seorang pelaku bisnis hanya mungkin bertindak secara etis kalau dia diberi kebebasan dan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggapnya baik.

Tanpa kebebasan ini para pelaku bisnis hanya akan menjadi robot yang hanya bisa tunduk pada tuntutan perintah, dan kendali dari luar dirinya. Hanya dengan kebebasan seperti itu ia dapat menentukan pilihannya secara tepat dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

2. Prinsip Kejujuran

Kegiatan bisnis tidak akan bisa bertahan dan berhasil kalau tidak didasarkan pada prinsip kejujuran. Sesungguhnya para pelaku bisnis modern sadar dan mengakui bahwa memang kejujuran dalam berbisnis adalah kunci keberhasilannya, termasuk untuk bertahan dalam jangka panjang, dalam suasana bisnis yang penuh dengan persaingan.

Apabila salah satu pihak berlaku curang, maka pihak yang dirugikan untuk waktu yang akan datang tidak akan lagi bersedia menjalin hubungan bisnis dengan pihak yang berbuat curang tersebut.

Oleh karena itu sekali pengusaha menipu konsumen, entah melalui iklan atau pelayanan yang tidak sesuai dengan yang diinformasikan, konsumen akan dengan mudah lari dan pindah ke produsen yang lain.

3. Prinsip Keadilan

Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional, obyektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Keadilan menuntut agar tidak ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya.

4. Prinsip Saling Menguntungkan

Jadi kalau prinsip keadilan menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya, prinsip saling menguntungkan menuntut hak yang sama yaitu agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan satu sama lain.

Dalam kenyataan, pengusaha ingin memperoleh keuntungan dan konsumen ingin memperoleh barang dan jasa yang memuaskan (harga tertentu dan kualitas yang baik) maka bisnis hendaknya dijalankan saling menguntungkan antara produsen dan konsumen.

5. Prinsip Integritas Moral

Prinsip ini menganjurkan agar orang-orang yang menjalankan bisnis tetap dapat menjaga nama baik perusahaan. Perusahaan harus megelola bisnisnya sedemikian rupa agar tetap dipercaya, tetap paling unggul dan tetap yang terbaik.

Dengan kata lain prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku bisnis dan perusahaan untuk menjadi yang terbaik dan dibanggakan.

Contoh Kegiatan yang Melanggar Etika Bisnis

  • Pada saat ada informasi gaji naik, distributor berusaha menimbun barang dagangan karena mereka tahu harga akan naik.
  • Penjual di pasar sering mengurangi berat timbangan dari barang yang dijual, agar keuntungannya tinggi.
  • Produsen sering menampilkan label 100% halal padahal kenyataan tidak.





Belum ada Komentar untuk "Aksioma dan Prinsip Dasar Etika Bisnis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel