Kasus Krisis Sub Prime Mortgage di Amerika tahun 2008

Amerika Serikat adalah ekonomi terbesar di dunia dengan nilai PDB sebesar US 15,5 Triliun pada akhir tahun 2011 yang dimana hanya seperempat dari PDB dunia sebelum tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi yang stabil menyebabkan tingkat pengangguran dan inflasi di Amerika Serikat rendah. 

Pada tahun 2008 masyarakat dunia dipanikkan oleh krisis ekonomi, yang terjadi di Amerika Serikat (AS) yang mengguncang seluruh jagat raya. Sejumlah perusahaan harus merumahkan sejumlah tenaga kerjanya, bahkan ada perusahaan yang harus tutup. Sejumlah institusi keuangan besar dunia terutama milik Amerika Serikat runtuh dan bangkrut.

Hal yang meletarbelakangi krisi ini adalah kebijakan inovasi keuangan dengan menciptakan kredit sub-prime-mortgage yang diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kapasitas membayar, misalnya buruh, pekerja tidak tetap, dan masyarakat yang hidup pas-pasan. Kredit ini dikenal dengan sebutan “NINJA LOAN” atau “No Incame, No Job dan No Asset” dengan resiko gagal bayarnya sangat besar.

Karena resiko sub-prime lebih tinggi, maka bunga yang dikenakan bank kepada peminjam juga lebih tinggi. Goncangan krisis ini kemudian bergetar ke mana-mana yang membuat panik banyak bursa keuangan global. Nama-nama besar institusi keuangan dunia, seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sachs, HSBC, satu demi satu mengumumkan besar kerugiannya.

Kronologi Kejadian

Diawali dari pemberian kredit yang sangat longgar oleh lembaga keuangan seperti bank, perusahaan investasi, asuransi dan lainnya. Mereka menawarkan penyediaan modal dalam bentuk kredit perumahan yang jaminannya adalah properti itu sendiri yang dikenal dengan prime-mortgage.

Jenis kredit ini biasanya hanya diberikan kepada nasabah yang mampu mencicil dan melunasi kreditnya, karena mempunyai pekerjaan tetap, jabatan, dan track record yang baik dalam pembayaran kredit.
 
Yang kedua, Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan beberapa deregulasi (penghapusan peraturan atau pembatasan) dalam perbankan dan peraturan baru yang memungkinkan untuk menambah terobosan-terobosan baru dalam sektor finansial, seperti menerapkan bunga yang bervariasi berdasarkan tingkat resiko. 

Maka muncullah inovasi keuangan dengan menciptakan kredit sub-prime-mortgage yang diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kapasitas membayar, misalnya buruh, pekerja tidak tetap, dan masyarakat yang hidup pas-pasan.

Yang ketiga, Kredit ini dikenal dengan sebutan “NINJA LOAN” atau “No Incame, No Job dan No Asset” dengan resiko gagal bayarnya sangat besar. Karena resiko sub-prime lebih tinggi, maka bunga yang dikenakan bank kepada peminjam juga lebih tinggi dari prime mortgage.

Yang dimana orang-orang mampu diberikan kredit dengan bunga lebih murah, sedangkan orang-orang yang hidup dengan kebutuhan pas-pasan harus membayar utang kredit dengan bunga yang lebih tinggi.

Yang keempat, Pertumbuhan Subprime Mortgage terus berlanjut hingga pada akhirnya terjadi krisis yang diakibatkan oleh membengkaknya “kredit macet” properti atau Non Performing Loan (NPL) yang terutama bersumber pada kredit properti Subprime.

Yang kelima, Sebagai akibat krisis kredit perumahan bermutu rendah atau yang lebih dikenal dengan kasus subprime mortgage ternyata berimbas ke krisis sektor finansial yang lebih dalam.

Terintegrasinya dunia baik dalam suatu ikatan ekonomi, pergeseran nilai di internal suatu kawasan akan berpengaruh kepada negara-negara lain di dunia yang melakukan perdagangan Internasional.

Pelanggaran yang Terjadi

  • Kurangnya kehati-hatian dalam menentukan investasi karena tergiur dengan tingkat pengembalian besar dari suku bunga the Fed yang sedang turun saat itu, yang mana hal ini di manfaatkan oleh bank Lehman Brothers untuk menginvestasikan dananya kepada Bank kredit perumahan yang menjadi titik dimulainya rentetan investasi sampai melumpuhkan ekonomi Amerika dan negara lain.
  • Tidak menaati dasar-dasar dalam memberikan kredit rumah, yang mana malah memberikan kredit kepada nasabah yang tidak memenuhi kriteria yang saat itu di gunakan di Amerika Serikat yakni memberikan kredit pada nasabah yang tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai atau tidak memenuhi lima kategori (credit score) kurang dari 620 menurut metode ini. Sehingga melanggar aturan Federal Housing Administration (lembaga di US) yang membentuk UU perumahan.
  • Untuk mengurangi resiko gagal bayar karena investasi perumahan, maka uang investasi juga di investasikan ulang mencadi pecahan yang lebih kecil dan di satukan dengan mortgage yang lain (Mortgage backed securities), yang mana didalamnya juga terdapat kerja sama beberapa lembaga yang terlibat untuk mendapatkan keuntungan.
  • Didalam kasus ini juga terjadi pelanggaran rekayasa keuangan yang kompleks agar usaha dalam meng-sekuritisasi morgage ini berhasil lalu dipecah lagi ke Collateralised Debt Obligations (CDOs).
Imbas yang diterima bukan hanya negara Amerika saja tetapi sebagian negara terkena efek dari kasus ini karena bank sentral tidak hanya milik Amerika saja tetapi juga beberapa bank Eropa yang hilang likuiditasnya dan pengangguran di Amerika meningkat tajam hingga 7%.

Solusi Terhadap Kasus Ini

  • IMF berusaha merilis decoupling, agar keadaan krisis tidak menjalar ke seluruh dunia, dengan melakukan mitra kerja dengan negara-negara lain.
  • The Fed menurunkan suku bunga dari 4,25% menjadi 3,5% (12 Januari 2008), dan 3% (akhir Januari 2008), kemudian 2,5%, bahkan di kuartal I tahun 2009 mengarah pada 0% (Warta Ekonomi April 2009). Kebijakan ini bertujuan mendongkrak harga sekuritas, dan jaminan rasa aman
  • Awal tahun 2008 pemerintah memberikan stimulus fiskal sebesar US$150 miliar (tax rebates) US$800 setiap rumah, dan pada bulan Februari 2009 direncakan stimulus fiskal sebesar US$787 miliar (peningkatan daya beli).
  • The Fed dan Pemerintah Amerika Serikat melakukan positioning yang tepat, dan berusaha mengembalikan kepercayaan pasar bisnis internasional.
  • Menteri Keuangan Henry Paulson, menganjurkan agar sepuluh bank besar di Amerika Serikat mencari suntikan dana segar yang berasal dari luar APBN. Kebijakan moneter dan fiskal yang dilakukan ini, baru mencapai pada tataran emergency menyelamatkan perekonomian.
  • Memberikan dana talangan (bailout) sebesar USD700 miliar. Dana ini ditujukan untuk menyelamatkan institusi keuangan dan perbankan demi mencegah krisis ekonomi yang berkepanjangan.
  • Bailout dilakukan dalam bentuk pembelian surat utang subprime mortgage yang macet dari investor. Selain itu, pemerintah juga berjanji membeli surat berharga jangka pendek USD900 miliar.
  • Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) juga mengumumkan rencana radikal untuk menutup sejumlah besar utang jangka pendek yang bertujuan menciptakan terobosan dalam kemacetan kredit yang mengakibatkan krisis finansial global.

Belum ada Komentar untuk "Kasus Krisis Sub Prime Mortgage di Amerika tahun 2008"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel