Konsep Etika Bisnis Islam
Dengan berkembangnya globalisasi ekonomi, banyak yang berminat untuk melakukan kegiatan bisnis. Dengan banyaknya kegiatan bisnis yang berkembang di Indonesia, akan memicu terjadinya persaingan yang ketat.
Akibatnya, akan timbul rasa untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, persaingan yang tidak sehat dapat merugikan banyak orang dan diri sendiri. Permasalahan etika ini tidak hanya terjadi pada bisnis skala kecil, tetapi terjadi juga pada bisnis berskala besar.
Adanya persaingan yang tidak sehat, menunjukkan bahwa peranan hukum dan etika bisnis di Indonesia belum berjalan dengan semestinya.
Konsep etika dalam berbisnis sangatlah penting di kalangan pelaku bisnis, karena hal ini dapat meminimalisir dampak negatif dalam ketatnya persaingan bisnis di era globalisasi saat ini.
Akibatnya, akan timbul rasa untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, persaingan yang tidak sehat dapat merugikan banyak orang dan diri sendiri. Permasalahan etika ini tidak hanya terjadi pada bisnis skala kecil, tetapi terjadi juga pada bisnis berskala besar.
Adanya persaingan yang tidak sehat, menunjukkan bahwa peranan hukum dan etika bisnis di Indonesia belum berjalan dengan semestinya.
Konsep etika dalam berbisnis sangatlah penting di kalangan pelaku bisnis, karena hal ini dapat meminimalisir dampak negatif dalam ketatnya persaingan bisnis di era globalisasi saat ini.
Pengertian Etika Bisnis
Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu Ethos dan Ethikos, ethos yang artinya sifat, watak, adat atau kebiasaan dan ethikos yang artinya susila, perilaku dan perbuatan yang baik.
Etika memiliki sudut pandang normatif di mana objeknya adalah manusia dan perilakunya, yang mencakup analisis dan penerapan konsep benar atau salah, baik atau buruk serta tanggung jawab.
Dalan islam sendiri, etika dikaikan dengan istilah akhlak yang berarti tingkah laku yang melekat dalam diri seseorang dan dipertahankan secara rerus menerus.
Etika dan Akhlak memiliki arti yang hampir sama, hanya saja sumbernya yang berbeda. Etika bersumber pada adat istiadat atau kebiasaan yang dianggap baik oleh masyarakat, sedangkan akhlak bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Hadist.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi etika seorang individu menurut Mamduh (2003:74), yaitu:
- Faktor Keluarga
Kelurga merupakan tempat pertama bagi seorang individu dalam belajar bersosialisasi, mengaktualisasikan diri, berpendapat serta berperilaku. Jadi etika individu bergantung bagaimana keaadaan keluarganya.
- Faktor Situasional
Contoh dari faktor situasional yang dapat mempengaruhi perilaku seorang individu yaitu, dalam keadaan terdesak seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya, ia tidak peduli dengan tindakan apapun yang dapat menyakiti orang lain ataupun mengancam nyawanya sendiri, karena anak adalah yang utama menurutnya.
- Nilai, Moral dan Agama
Nilai dan moral dapat mempengaruhi etika seseorang dalam berbisnis karena dalam ajaran agama banyak juga yang mengatur mengenai hukum muamalah yang di dalamnya termasuk bisnis atau transaksi.
- Pengalaman Hidup
Saya setuju akan pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, baik itu pengalaman bagik ataupun buruk, karena baik dan buruk pasti memiliki hikmah yang harus dijadikan sebagai pembelajaran dan evaluasi diri agar memiliki etika yang lebih baik di masa yang akan datang.
- Pengaruh Teman
HR.Bukhari 5534 dan Muslim 2628 yang artinya, Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi, atau kamu bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, kamu tetap mendapat bau harum darinya.
Pandai besi bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, kamu tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.
Jadi, pergaulan teman memberi pengaruh yang sangat berarti bagi etika seseorang. Ibarat penjual minyak dan pandai besi yang sudah saya sampaikan di atas.
Menurut Josephon dan Pandji (2007:125), secara universal ada 10 etika yang mengarahkan perilaku agar bisnisnya sesuai dengan tuntunan dan tidak terjadi kecurangan di dalamnya, yaitu:
- Kejujuran
- Integritas
- Memelihara Janji
- Kesetiaan
- Kewajaran atau Keadilan
- Suka Membantu Orang Lain
- Hormat Kepada Orang Lain
- Kewarganegaraan
- Mengejar Keunggulan
- Dapat Dipertanggung jawabkan
Dengan seiring berjalannya perkembangan masa standar etika bisnis dapat berubah, agar tidak terjadi berbagai macam perubahan yang tidak sesuai dengan adat dan istiadat serta kitab suci Al-Qur'an dan Al-Hadist, ada beberapa cara untuk mempertahankan standar etika dalam berbisnis. Menurut Padji (2007:127) sebagai berikut:
- Ciptakan Kepercayaan Perusahaan
Kepercayaan perusahaan dalam menetapkan nilai-nilai perusahaan yang berdasar pada tanggung jawab dan etika harus ditanamkan pada stakeholders.
- Kembangkan Kode Etik
Kode etik merupakan suatu catatan tentang standar tingkah laku dan prinsip-prinsip etika yang diharapkan perusahaan dan karyawan.
- Jalankan Kode Etik
Setelah dikembangkan, jalankan kode etik secara adil dan konsisten, manajer dan atasan lainnya harus mengambil tinfakan apabila merasa melanggar etika.
- Lindungi Hak Perorangan
Melindungi seseoang dengan kekuatan prinsip-prinsip moral dan nilai-nilainya merupakan jaminan terbaik untuk menghindari penyimpangan etika.
- Adakan Pelatihan Etika
Pelatihan etika dapat diprogram melalui balai kerja yang fungsinya untuk meningkatkan kesadaran para karyawan.
- Lakukan Audit Etika Secara Periodik
Audit merupakan cara yang terbaik untuk mengevaluasi efektivitas sistem etika.
- Pertahankan Standar yang Tinggi Tentang Tingkah Laku
Standar tingkah laku sangat penting untuk menekankan pentingnya etika dalam organisasi dan tidak dapat dinegosiasi.
- Hindari Contoh Etika yang Tercela Setiap Saat
- Ciptakan Budaya Komunikasi Dua Arah
Maksud dari komunikasi dua arah adalah perusahaan menerima aspirasi untuk perbaikan perusahaan agar dapat lebih baik lagi untuk kedepannya.
- Libatkan Karyawan Dalam Mempertahankan Standar Etika
Sebagai pelaku bisnis ada beberapa macam pertanggung jawaban yang harus dilakukan menurut Zimmere dalam Pandji (2007:128), diantaranya:
1. Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan
Perusahaan harus memperhatikan, melestarikan dan menjaga lingkungan.
2. Tanggung Jawab Terhadap Karyawan
Tanggung jawab terhadap karyawan dapat dilakukan dengan cara berikut:
- Dengarkan para karyawan dan hormati pendapat mereka
- Minta input kepada karyawan
- Berikan umpan balik baik negatif maupun positif
- Ceritakan selalu kepada mereka tentang kepercayaan
- Biarkan mereka mengetahui apa yang sebenar-benarnya mereka harapkan
- Berilah hadiah kepada karyaan yang bekerja dengan baik
- Percaya kepada mereka
3. Tanggung Jawab Kepada Pelanggan
Menurut Ronal J.Ebert dalam Pandji (2007:129) ada dua kategori tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan, yaitu:
- Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas
- Memberikan harga produk dan jasa yang adil dan wajar
4. Tanggung Jawab Kepada Kreditor
Jika ada masalah akan masalah keuangan maka perusahaan wajib memberikan kepada kreditor akan keterlambatan untuk membayar hutangnya
5. Tanggung Jawab Kepada Pemegang Saham
6. Tanggung Jawab Sosial Kepada Masyarakat atau Komunitas
Contoh tanggung jawabnya adalah dengan cara memberikan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR adalah rasa tanggung jawab kepada masyarakat seperti memberikan beasiswa kepada anak yang tidak mampu pada daerah tersebut.

Belum ada Komentar untuk "Konsep Etika Bisnis Islam"
Posting Komentar